Mengkudu

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Mengkudu
Morinda citrifolia
Mengkudu
Klasifikasi ilmiah
Regnum: Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Gentianales
Familia: Rubiaceae
Genus: Morinda
Spesies: M. citrifolia
Nama binomial
Morinda citrifolia
L.

Mengkudu (pace, kemudu, kudu (Jawa); cengkudu (Sunda), kodhuk (Madura), wengkudu (Bali) berasal daerah Asia Tenggara, tergolong dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini adalah Noni (bahasa Hawaii), Nono (bahasa Tahiti), Nonu (bahasa Tonga), ungcoikan (bahasa Myanmar) dan Ach (bahasa Hindi),

Tanaman ini tumbuh di dataran rendah pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan memiliki totol-totol.

Mengkudu sering digunakan sebagai bahan obat-obatan.

BOTANI TANAMAN

 


Pokok:  Mengkudu ialah pokok malar hijau dengan silara berbentuk kun, tumbuh setinggi 7 m.
 
Daun:   Daun tersusun dalam pasangan yang bertentangan, dan berbentuk bujur-tirus. Daun
berwarma hijau tua berkilat, licin dan hujungnya runcing.  Purata ukuran daun ialah 30-35 cm panjang dan 13-15
cm lebar. Di setiap pankal tangkai daun terdapat ketumbuhan berbentuk seperti lidah berwarna hijau berukuran
lebih kurang 1.5 cm panjang.

Batang:   Kulit batang pokok berwarna kelabu dan mempunyai dahan empat segi.
 
Bunga:   Jambak bunga tumbuh pada batang yang bentuknya menyerupai ketuat. Bunga adalah bisexual
dan berbau wangi.
 
Buah:   Buahnya berisi, jenis drup yang tidak sekata dan berbentuk bujur.  Apabila masak
buahnya berubah warna menjadi krim keputih-putihan.
 
BAHAGIAN YANG DIGUNAKAN:   Buah, daun dan akar
 

13

STATUS PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TANAMAN

MENGKUDU

Endjo Djauhariya dan Rosihan Rosman

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Tanaman obat mengkudu mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan

di Indonesia, karena selain lahan dan iklim yang sesuai juga ditunjang oleh sumber daya manusia

yang cukup banyak dan relatif murah. Pabrik industri pengolahan mengkudu berkem-bang

pesat dan hasil olahan mengkudu Indonesia telah dipasarkan ke berbagai negara. Dukungan

penelitian ke arah peningkatan produktivitas, mutu dan efisiensi dari semua aspek budidaya

masih diperlukan, sehingga produk olahan mengkudu Indonesia mampu bersaing di

pasaran Internasional. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, Balai Pene-litian Tanaman Obat

dan Aromatik melakukan pengumpulan aksesi tanaman obat termasuk tanaman mengkudu dari

berbagai daerah di Indonesia dan telah melakukan penelitian-penelitian mengenai

komponen budidayanya. Dari hasil penelitian didapatkan 3 tipe meng-kudu yang memiliki

keunggulan produksi. Se-lain itu pemberian pupuk kandang atau bokasi 15-20 kg/tanaman/

tahun dapat meningkat-kan produksi dan mutu buah mengkudu. Pengembangan budidaya

mengkudu perlu diarahkan ke daerah yang sesuai yaitu pada daerah yang beriklim A, B1,

dan B2 (Oldeman), jenis tanah Latosol, Andosol, Regosol dan Podsolik, kedalaman

tanah efektif >150 cm, tekstur lempung berpasir, berkerikil, berhumus atau lempung liat

berpasir kwarsa, drainasenya cukup baik, kemasaman tanah 5,5-6,5, curah hujan 2.000-

3.000 mm/th dengan hari hujan 150-170 hari/th. Pengembangan mengkudu akan lebih menguntungkan

bila dikembangkan dengan sistim pola tanam tumpangsari dengan tanaman lain.

 

Kata kunci : Morinda citrofolia, aksesi, budidaya

PENDAHULUAN

Mengkudu atau pace (Morinda citrifolia) merupakan salah satu tanaman obat yang dalam beberapa tahun terakhir banyak peminatnya baik dari kalangan pangusaha agribisnis, maupun dari kalangan pengusaha industri obat tradisional, bahkan dari kalangan ilmuwan diberbagai negara. Hal ini disebabkan karena baik secara empiris maupun hasil penelitian medis membuktikan bahwa dalam semua bagian tanaman mengkudu terkandung berbagai macam senyawa kimia yang berguna bagi kesehatan manusia. Peran mengkudu dalam pengobatan tradisional mendorong para peneliti diberbagai belahan dunia melakukan berbagai penelitian mengenai khasiat mengkudu. Popularitas tanaman tersebut terus menyebar ke negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Jepang, dan Singapura. Industri pengolahan berbahan baku mengkudu terus tumbuh diberbagai negara. Perusahaan industri minuman di wilayah kepulauan Pasifik Timur yang telah mengolah buah mengkudu untuk minuman sehat, terus memperluas perkebunan mengkudu untuk memenuhi pasar di Amerika Serikat, Jepang dan

negara-negara di Benua Eropa (Waha, 2001).

 

Di Indonesia tanaman mengkudu sudah dimanfaatkan sejak jaman dahulu

kala. Menurut silsilahnya bahwa mengkudu merupakan tanaman asli

dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mengkudu tumbuh hampir diseluruh

kepulauan di Indonesia, umumnya tumbuh liar di pantai laut, di pinggir

hutan, ladang, pinggir jalan dan aliran air, serta pinggir kampung. Tanaman

ini sengaja ditanam sebagai batas kepemilikan tanah dan untuk kebutuhan

obat keluarga. Penggunaan mengkudu sebagai obat di Indonesia tercatat

dalam cerita pewayangan yang ditulis dalam pemerintahan raja-raja dan para Sunan. Bukti sejarah pemanfaatan mengkudu pada masa itu dapat dilihat dari terdapatnya tanaman mengkudu yang tumbuh di museum koleksi

tanaman obat di keraton bekas kerajaan dan di mesjid-mesjid para sunan. Di

Keraton Surakarta misalnya terdapat pohon mengkudu yang umurnya diperkirakan

sudah ratusan tahun (Sudiarto et al., 2003). Dalam pengobatan tradisional,

mengkudu digunakan untuk obat batuk, radang amandel, sariawan,

tekanan darah tinggi, beri-beri, melancarkan  kencing, radang ginjal, radang

empedu, radang usus, sembelit, limpa, lever, kencing manis, cacingan, cacar

air, sakit pinggang, sakit perut, masuk angin, dan kegemukan (Wijayakusuma

et al., 1992).

 

Pesatnya perkembangan industri obat tradisional yang mengolah buah

mengkudu belum diimbangi dengan upaya pengembangan budidaya yang

memadai. Baru beberapa tahun terakhir di beberapa daerah petani dan pengusaha

agribisnis mengebunkan mengkudu dalam luas areal yang masih

terbatas dan dengan cara-cara budidaya yang masih sangat sederhana, sehingga

untuk memenuhi kebutuhan buah mengkudu sebagai bahan baku industri

obat sebagian besar masih dipanen dari tanaman liar.

Dalam mendukung pengembangan

tanaman mengkudu di

Indonesia, Balai Penelitian Tanaman

rempah dan Obat (Balittro) telah melakukan

berbagai penelitian teknologi

budidaya mulai dari ekologi, pemuliaan,

hama dan penyakit hingga pasca

panen yang akan diurai pada bagian

selanjutnya dari tulisan ini.

PERKEMBANGAN MEGKUDU DI INDONESIA DAN PEMANFAATAN

Menurut data statistik tahun 2003 areal tanaman mengkudu yang dibudidayakan

di 15 propinsi seluas 23 hektar dengan produksi sekitar 1.910 ton dan

meningkat menjadi 73 hektar pada tahun 2004 dengan produksi sebesar 3.509 ton. Sebaran daerah dan luas areal tanaman mengkudu dapat dilihat

pada Tabel 1. Pemanfaatan mengkudu

sebagai obat tradisional baik di dalam maupun di luar negeri sebenarnya

sudah sejak ribuan tahun yang lalu. Waha (2001), mengemukakan, pada

tahun 100 SM penduduk Asia Tenggara berimigrasi ke kepulauan Polinesia

dan membawa tanaman mengkudu sebagai tanaman obat. Sejak saat itu

mengkudu dimanfaatkan sebagai obat di kepulauan tersebut. Laporan tentang

khasiat mengkudu sudah tercantum dalam tulisan-tulisan kuno 2000 tahun

yang lalu pada masa dinasti Han di Cina.

Di negara-negara Eropa, khasiat mengkudu baru diketahui sekitar tahun

1800, yang diawali dengan pendaratan Kapten Cook dan para awaknya di kepulauan

Hawaii pada tahun 1778. Kedatangan mereka turut serta menyebarkan

berbagai penyakit pada penduduk setempat seperti penyakit gonorrhea,

sipilis, TBC, kolera, influenza, pneumonia. Penyakit-penyakit tersebut

dengan cepat mewabah keseluruh wilayah Hawaii dan pengobatan

tradisional masyarakat setempat tidak mampu menyembuhkannya, sehingga

mengakibatkan kematian ribuan penduduk. Untuk mengatasi wabah penyakit

tersebut para peneliti Eropa yang datang kemudian mencoba mengatasinya

dengan pengobatan tradisional bangsa Polinesia termasuk pengobatan

alamiah menggunakan mengkudu dan berhasil, maka sejak tahun 1860 pengobatan

alamiah menggunakan mengkudu mulai tercatat dalam literaturliteratur

Barat.

Riset medis tentang khasiat mengkudu dimulai pada tahun 1950,

dengan ditemukannya zat anti bakteri terhadap Echerchia coli, M.pyrogenes

dan P. aeruginosa yang ditulis dalam jurnal ilmiah Pacific Science. Waha

(2001) mengemukakan bahwa senyawa xeronin dan prekursornya yang dinamakan

proxeronin ditemukan dalam

 

 

jumlah besar pada buah mengkudu oleh seorang ahli biokimia dari Amerika Serikat bernama Heinicke pada tahun 1972. Xeronin merupakan zat penting dalam tubuh yang mengatur fungsi dan bentuk protein spesifik selsel tubuh. Tahun 1980 melalui berbagai riset terbukti bahwa mengkudu dapat

menurunkan tekan darah tinggi. Pada tahun 1993 para peneliti dari Keio University dan The Institute of Biomedical Sciences Jepang menemukan zat anti kanker (Damnacanthal) yang terkandung dalam buah mengkudu. Penelitian terus dilakukan oleh berbagai lembaga di Prancis, Belanda,

Jerman, Jepang, Australia, Irlandia, Kanada, Taiwan dan di sebuah pusat kajian ilmu pengatahuan di Amerika Serikat. Universitas Hawaii turut melakukan penelitian tentang antitumor dan antikanker merngkudu dan hasilnya dimuat sebuah jurnal ilmiah Procedeeng west Pharmacology Society Journal

tahun 1994. Solomon (1998) melakukan penelitian terhadap 8000 orang pengguna sari buah mengkudu dengan dibantu oleh 40 dokter dan praktisi medis lainnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sari buah mengkudu dapat memulihkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit berat seperti jantung, kanker, diabetes, stroke dan sejumlah penyakit lainnya (Tabel

2).

KANDUNGAN KIMIA MENGKUDU

Di dalam buah mengkudu terkandung zat-zat yang berkaitan dengan kesehatan dan telah dibuktikan hanya terdapat di dalam mengkudu. Tanaman mengkudu mengandung berbagai vitamin, mineral, enzim alkaloid, ko-faktor dan sterol tumbuhan yang terbentuk secara alamiah. Komposisi kimia yang

terkandung dalam tiap bagian mengkudu tertera pada Tabel 3.

Senyawa-senyawa penting dalam mengkudu yang berkaitan dengan kesehatan

sebagai berikut :

Hasil penelitian Aalbersberg (1993) menyatakan bahwa kandungan

karoten pada daun mengkudu lebih tinggi dibanding dengan yang terkandung

dalam sayuran Brassica cinensis dan Colocasia esculenta. Sedangkan

pada bunganya terkandung senyawa glikosida, antrakinon, asam kapron dan

asam kaprilat (Bushnel et al, 1950). Senyawa-senyawa yang lebih berperan

dalam pengobatan dan kesehatan yaitu yang terkandung dalam buahnya seperti

asam askorbat yang cukup tinggi dan merupakan sumber vitamin C yang luar

biasa. Hasil analisa Solomon (1998) mengemukakan bahwa di dalam 1.000

g sari buah mengkudu terkandung 1.200 mg Vit. C, sehingga berkhasiat

sebagai anti oksidan yang sangat baik. Antioksidan berkhasiat menetralisir partikel-partikel berbahaya (radikal bebas) yang terbentuk dari hasil sampingan dalam proses metabolisme. Radikal bebas dapat merusak sistim kekebalan tubuh dan materi genetik. Selain itu, dari hasil penelitiannya buah mengkudu juga mengandung zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat,

protein, vitamin, dan mineralmineral esensial.

 

 

 

Menurutnya senyawa selenium adalah salah satu contoh mineral yang

terdapat dalam mengkudu dan juga merupakan anti oksidan yang hebat.

Bangsa polinesia dan penduduk asli kepulauan Pasifik Selatan sejak dulu

sampai sekarang menggunakan buah mengkudu sebagai makanan, terutama

untuk mempertahankan hidup sehat pada waktu krisis pangan.

Senyawa terpenoid yang terkandung dalam mengkudu merupakan senyawa

yang sangat penting bagi tubuh,

zat-zat terpen berfungsi membantu sintesa

organik dan pemulihan sel-sel

dalam tubuh (Waha, 2001). Bushnel et

al. (1950) mengemukakan bahwa buah

mengkudu mengandung zat-zat seperti

Ascubin, L. asperuloside, alizarin

dan beberapa zat antraquinon.

Menurutnya Zat-zat tersebut terbukti

sebagai zat anti bakteri infeksi

seperti, Proteus morganii, Bassilus

subtilis, Staphylococus aureus, Pseudomonas

aeruginosa dan Echerichia

coli. Selain itu juga dapat mengontrol

jenis-jenis bakteri yang mematikan

(patogen) seperti Salmonella dan

Sigella (Waha, 2001).

Mengkudu mengandung zat anti

kanker yang dinamakan damnacantha

(Hiramatsu et al., 1993). Zat tersebut

paling efektif melawan sel-sel abnormal

dibanding zat-zat antikanker yang

terdapat dalam tumbuhan lainnya. Zat

scopoletin dalam buah mengkudu ditemukan pada tahun 1993 oleh para

peneliti di Universtas Hawaii (Waha,

2001). Selanjutnya dikemukakan bahwa

zat scopoletin dapat memperlebar

saluran pembuluh darah yang menyempit

dan melancarkan peredaran darah.

Selain itu scopoletin juga dapat membunuh

beberapa tipe bakteri dan bersifat

fungisida terhadap bakteri Pythium

sp dan bersifat anti peradangan dan

alergi.

Buah mengkudu mengandung

zat proxeronin dalam jumlah besar

yang dapat dibentuk menjadi xeronin

(Heinicke dalam Waha, 2001). Selanjutnya

dikemukakan bahwa dalam usus

manusia terdapat enzim proxeronase

yang dapat mengubah proxeronin

menjadi xeronin. Fungsi utama xeronin

dalam tubuh adalah mengatur bentuk

dan kekerasan (rigiditas) protein-protein

spesifik di dalam sel. Bila fungsi

protein-protein menyimpang, maka tubuh

akan mengalami gangguan kesehatan

PENGOLAHAN MENGKUDU

Seperti telah dikemukakan sebelumnya,

bahwa buah mengkudu sejak

lama telah diolah menjadi obat, minuman

atau makanan sehat dan itu

dilakukan oleh negara-negara maju

dengan skala industri besar dan menggunakan

tehnologi modern. Bahkan

berdasarkan informasi dari pabrik

pengolah mengkudu di Indonesia seperti

Bali Noni dan Indononi daun

mengkudu kering sudah diekspor ke

Jepang, namun masih skala kecil. Hasil

akhir olahan buah mengkudu semakin

beragam, selain jus dan ekstrak untuk

pengobatan dan suplemen juga krim,

sabun, sampo untuk kecantikan dan

kesehatan. Beberapa cara sederhana

mengolah mengkudu untuk kepentingan

rumah tangga yang pernah dicoba di

Laboratorium Pasca Panen Balittro

seperti di bawah (Djauhariya et al.,

2004).

Sari buah mengkudu

Buah mengkal secukupnya atau

sebanyak mungkin, setelah dicuci bersih

dimasukan kedalam air mendidih

selama 2 menit, lalu ditiriskan sampai

dingin. Setelah dingin lalu difermentasi

dengan cara dimasukkan kedalam wadah

anti karat dan ditutup rapat. Di

dalam wadah 1/3 - 1/4 bagian bawah

dari wadah dibuat saringan penyangga

dan keran pembuka di bagian luarnya.

Setelah 2 minggu cairan buah akan menetes

ke dasar wadah dan dengan membuka

keran cairan tersebut ditampung

di wadah bersih dan steril. Sari buah

tersebut siap untuk diminum sebagai

obat atau minuman sehat atau dikirim

ke pabrik pengemas.

Simplisia kering

Setelah buah dipetik dari kebun,

dipilih yang sehat dan segar, tidak

cacat, dicuci bersih di air mengalir, lalu

ditiriskan sampai kering. Selanjutnya

dipotong-potong dengan ukuran 0,5

cm, kemudian dikeringkan dimata hari

terik waktunya dari jam 8 - 11 pagi.

Waktu dikeringkan sebaiknya ditutup

dengan kain hitam untuk mengurangi

kerusakan bahan akibat teriknya sinar

yang dapat menurunkan mutu simplisia.

Bila pengerinan menggunakan

20

oven vacum gunakan suhu 40C.

Kadar air simplisia antara 10 - 13 %.

Buah kering dapat dimanfaatkan

untuk kepentingan sendiri sebagai cadangan

bahan obat, atau dijual ke pabrik

atau kepengolah jamu tradisional.

Bila mau disimpan, masukan kedalam

kantong plastik dan ditutup rapat tidak

tembus udara dan disimpan ditempat

yang sejuk dan kering, sehingga dapat

disimpan lebih lama sebelum dikirim

ke tempat pengolah.

Ekstrak mengkudu

Ekstrak mengkudu merupakan

perasan murni sari buah mengkudu, didalamnya

terkandung senyawa-senyawa

yang berkhasiat obat. Ekstrak kental

bisa dijual ke pabrik pengolah atau

dapat dimanfaatkan langsung sebagai

obat atau di keringkan lalu dimasukkan

ke dalam kapsul dan siap untuk dikonsumsi.

Cara membuat ekstrak sederhana

sebagai berikut :

- Buah mengkudu dihaluskan dengan

blender kemudian direndam dengan

alkohol 90 % perbandingan 1 : 3 dan

dikocok dengan pengocok listrik

(Stirrer) selama 2 jam, lalu didiamkan

selama 24 jam.

- Ekstrak disaring dan ampasnya direndam

kembali dengan alkohol 90

% 1 : 2, kemudian dikocok selama 2

jam dan didiamkan selama 24 jam.

- Hasil saringan (filtrat) yang dihasilkan

kemudian diuapkan dengan

menggunakan mesin penguap listrik

(evaporator) sampai didapatkan ekstrak

kental dengan rendemen + 7,65

%.

Standar mutu ekstrak kental

mengkudu

- Rendemen : 10 - 12 %

- Kandungan kimia (Flavonoid total)

: 0,09 0,12 %

- Kadar air : 3,7 6,15 %

PENELITIAN TEKNOLOGI

BUDIDAYA MENGKUDU

Pada awal perkembangan industri

obat tradisional, untuk memenuhi

kebutuhan akan buah mengkudu masih

dipanen dari tanaman liar. Namun setelah

beberapa tahun kemudian banyak

petani yang membudidayakannya secara

khusus, terutama disekitar pulau

Jawa, kemudian terus menyebar kebeberapa

daerah di Indonesia. Teknologi

budidaya yang selama ini dilakukan petani

umumnya masih sangat sederhana

tanpa perlakuan budidaya yang memadai

yang memenuhi standar Good

Agricultural Practice (GAP) berasal

dari hasil penelitian.

Disisi lain perkembangan pesat

agroindustri berbasis mengkudu juga

masih mengkhawatirkan, karena dalam

proses pengadaan bakunya belum berlandaskan

standar quality, safety dan

efficacy (QSE). Aspek QSE ini sangat

dipengaruhi oleh tehnik budidaya yang

diterapkan. Tehnik budidaya harus

mengikuti standar good agricultural

practice (GAP), Sedangkan proses

produk olahannya dengan menerapkan

good manufacturing practis (GMP)

yang bertumpu pada QSE. Salah satu

kendala dari teknologi budidaya mengkudu

adalah minimnya dukungan penelitian

ilmiah terhadap perkembangan

agro industri mengkudu (Barani 2002).

21

Hasil penelitian teknolgi budidaya yang

telah dilakukan adalah sebagai berikut :

Ekologi tanaman

Mengkudu merupakan tumbuhan

tropis, dapat tumbuh diberbagai tipe

lahan dan iklim pada ketinggian tempat

dataran rendah sampai 1.500 m dpl

(Heyne, 1987). Kondisi lahan yang sesuai

untuk tanaman mengkudu adalah

pada lahan terbuka cukup sinar matahari,

ketinggian tempat 0 - 500 m dpl,

tekstur tanah liat, liat berpasir, tanah

agak kembab, dekat dengan sumber air,

subur, gembur, banyak mengandung

bahan organik dan drainasinya cukup

baik. Curah hujan 1.500 - 3.5000 mm/

tahun, merata sepanjang tahun, dengan

bulan kering < 3 bulan, pH tanah 5 - 7

(Heyne, 1987, Nelson, 2001, Sudiarto

et al., 2003). Untuk mendukung pengembangan

mengkudu telah dilakukan

studi ekologi menyangkut persyaratan

tumbuh tanaman mengkudu

(Tabel 4).

Adanya bulan kering yang dikehendaki

berhubungan dengan pembungaan

dan pembuahan. Hujan yang

tinggi akan berpengaruh terhadap pembungaan

dan pembuahan. Bunga akan

gugur dan tidak terjadi pembuahan,

sedangkan bulan kering yang terlalu

panjang juga akan mengurangi jumlah

buah dan buah yang tumbuh mengecil

dan bentuknya tidak normal. Mengingat

peranan mengkudu dalam industri

obat tradisional dan sebagai komoditas

ekspor, kiranya perlu mendapat perhatian

dari semua pihak terkait dalam

hal penelitian dan pengembangannya.

Bahan tanaman

Backer dan Backhuizen (1965)

mengemukakan bahwa di Pulau Jawa

terdapat 6 jenis mengkudu diantaranya

dua jenis yang mempunyai nilai ekonomi,

yaitu M. citrifolia dan M.

brachteata. Jenis M. citrifolia biasa

digunakan untuk obat, sedangkan jenis

M. brachteata dahulu biasa digunakan

sebagai pewarna kain dan batik.

Sudiarto et al. (2003) mengemukakan

bahwa dibeberapa daerah di Jawa dan

Sulawesi ditemukan berbagai ragam

mengkudu berdasarkan morfologi dan

mutu buahnya. Dari sebanyak 20

nomor mengkudu yang dianalisa mutu

buahnya, 10 nomor diantaranya mempunyai

kualitas jus buah cukup baik.

Hasil pengamatan Djauhariya et al.

(2006), di beberapa daerah di Pulau

Jawa ditemukan 7 tipe mengkudu.

Pembeda utama ke 7 tipe tersebut adalah

morfologis buah (bentuk, ukuran

dan jumlah biji per buah), rasa daging

buah, serta rendemen jus daging buah.

Berdasarkan karakter produksi

dan mutu buahnya, dari ke 7 tipe tersebut

ada 3 tipe yang merupakan pohon

induk harapan. Karakter morfologi ketiga

tipe tersebut dapat dilihat pada

Tabel 5. Sudiarto et al. (2003) mengemukakan

bahwa mutu buah ketiga tipe

tersebut diatas cukup baik, kadar sari

larut air rata-rata 9 %, sehingga layak

untuk dikembangkan budidayanya.

Lingkungan tumbuh untuk

mengkudu sukun dan mengkudu pahit

agak terbatas dari dataran rendah sampai

ketinggian 350 m dpl, tipe iklim

C/B, curah hujan 2000 - 3000 mm/th,

jenis tanal Latosol dan Regosol, meng

hendaki suhu udara dan tanah agak

lembab. Sedangkan mengkudu berbiji

banyak sebarannya cukup luas

dari dataran rendah sampai 800 m

dpl, tipe iklim A,B sampai D, curah

hujan 1500 - 3500 mm/th, jenis tanah

Latosol, Andosol, Regosol, Grumosol

dan Podsolik., kelembaban udara

dan tanah kering sampai basah.

Cara perbanyakan

Cara perbanyakan mengkudu

yang umum dilakukan petani adalah

dengan menggunakan biji. Dalam rangka

mempertahankan sifat genetis yang

baik yang dipunyai induknya cara ini

tidak dapat dilakukan karena penyerbukan

tanaman mengkudu terjadi secara

silang, sehingga akan terjadi segregasi

genetik pada keturunan berikutnya.

Untuk itu perbanyakan

mengkudu sebaiknya dilakkan secara

vegetatif.

Dalam upaya menunjang

pengembangan budidaya mengkudu,

Balittro terus melakukan penelitian

mengenai aspek-aspek yang berkaitan

dengan peningkatan produksi dan mutu

mengkudu. Beberapa aspek budidaya

yang telah dilakukan penelitiannya

seperti pengadaan bahan tanaman secara

vegetatif, pemupukan dan analisa

mutu dari jenis-jenis mengkudu unggulan.

Dari hasil penelitian, cara perbanyakan

dengan setek, grafting dan

cangkok tingkat keberhasilannya mencapai

diatas 80 % (Rahardjo dan

Djauhariya, 2004, Djauhariya dan

Rahardjo, 2004). Habitus tanaman hasil

dari ketiga cara perbanyakan tersebut

cukup rindang dan cepat berbuah,

sehingga mempermudah dalam cara

panen buahnya. Namun demikian masing-

masing cara mempunyai kelebihan

dan keterbatasan. Tanaman mengkudu

hasil perbanyakan dengan cara

setek dan cangkok sistim perakarannya

yang dangkal karna tidak mempunyai

akar tunjang, sehingga cukup rentan

terhadap kekeringan dimusim kemarau.

Sedangkan dengan cara grafting, dalam

tehnik pelaksanaannya membutuhkan

personil yang mempunyai keterampilan

yang tinggi, sehingga perlu dilatih terlebih

dahulu.

Persiapan lahan dan penanaman

Penanaman dilakukan secara

monokultur, langsung dibuat lubang

tanam namun apabila penanaman dilakukan

dengan sistim tumpangsari

dengan tanaman semusim, maka tanah

perlu diolah dahulu. Lubang tanam dibuat

dengan ukuran panjang, lebar dan

dalam masing-masing 40 cm. Jarak

antar lubang tanam 3 m x 4 m atau 4 m

x 4 m, tergantung dari kondisi topografi

dan kesuburan tanah. Pada lahan yang

miring dan tanah yang lebih subur jarak

tanam dapat diperlebar. Pada daerah serangan

rayap dan hama tanah lainnya,

sebelum ditimbun disekeliling pangkal

batang bibit ditaburi dengan anti rayap,

dengan sedapat mungkin menggunakan

pestisida nabati. Setelah tanam dilakukan

penyiraman secukupnya serta diberi

mulsa dan naungan jerami atau

sisa bahan tanaman lainnya. Naungan

dibuka setelah tanaman muda cukup

tahan terhadap sinar mata hari terik (+

2 bulan ).

Pemupukan dan pemeliharaan

Pemupukan pada tanaman mengkudu

tidak dianjurkan menggunakan

pupuk buatan (anorganik). Dengan

demikian dianjurkan menggunakan

pupuk organik berupa kotoran hewan,

kompos atau bokasi. Pupuk organik kotoran

hewan dengan dosis 20 kg atau

dengan bokasi 15 kg/tanaman/tahun

yang diberikan pada awal dan akhir

musim hujan masing-masing separuh

dosis dapat meningkatkan produksi dan

mutu buah mengkudu (Djauhariya et

al., 2006).

Pemberian mulsa disekitar piringan/

tanaman perlu dilakukan setiap

tahun menjelang musim kemarau.

Perbaikan saluran dan selokan dilakukan

bila perlu terutama menjelang dan

dimusim hujan. Pengendalian gulma

dilakukan apabila banyak tumbuh disekitar

piringan dengan cara mencabutnya.

Hama yang sering mengganggu

tanaman menkudu muda yaitu ulat dan

pemakan daun. Apabila ada serangan

hama tersebut, cukup dikendalikan

secara fisik, yaitu diambil dan dibunuh,

tidak perlu menggunakan insektisida.

Hama yang umum pada tanaman dewasa

yaitu kutu daun yang menyerang

pucuk dan daun muda. Serangan berat

oleh hama tersebut biasanya terjadi

pada musim kemarau. Pada musim

hujan gejala serangan tidak nampak

dan tidak mengganggu pertumbuhan

dan produksi mengkudu.

25

Salah satu penyakit yang menyerang

tanaman mengkudu adalah bercak

daun oleh Colletotrichum sp. Penyakit

ini dapat dikendalikan dengan sanitasi

dan fungisida nabati (Noveriza, komunikasi

pribadi).

Pola tanam

Mengkudu dapat dibudidayakan

dengan sistim tanam sela atau tumpangsari

dengan tanaman semusim,

dengan tujuan untuk meningkatkan

efisiensi lahan dan pendapatan petani.

Tanaman sela atau tumpangsari ditanam

diantara tanaman mengkudu

dengan mengatur jarak tanam dan

populasi tanaman tersebut. Jenis tanaman

sela atau tumpangsari yang dianjurkan

yaitu yang kompatibel, tidak kompetitif

dengan tanaman pokok, cocok

dengan lahan dan iklim setempat dan

mempunyai nilai jual tinggi. Tanaman

tahunan yang ditumpangsarikan dengan

tanaman mengkudu misalnya

jeruk, pisang, kapolaga, tanaman sayuran

seperti katuk dan lainnya. Tanaman

palawija dan semusim lainnya seperti

jagung, kacang-kacangan, dan tanaman

sayuran.

Panen dan pasca panen

Hasil penelitian Balittro menunjukkan

bahwa tanaman mengkudu

yang berasal dari bahan tanaman setek

dan cangkok akan dipanen buahnya lebih

awal, yaitu pada umur 10 bulan

setelah tanam, sedangkan yang berasal

dari bahan tanaman grafting pada umur

12 bulan dan yang berasal dari okulasi

dan biji pada umur > 12 - 14 bulan. Selanjutnya

panen buah dapat dilakukan

setiap 2 minggu sekali. Buah yang

dipanen yang sudah tua sampai mengkal,

dengan ciri-ciri : kulit buah berwarna

putih mengkilap merata, transparan

dan daging buah masih keras. Produksi

buah tanaman mengkudu hasil dari ketiga

cara perbanyakan tersebut di atas

cukup baik. Pada tahun pertama bisa

menghasilkan buah rata-rata diatas 30

kg/pohon.

Buah yang telah dipanen dimasukkan

kedalam wadah peti dari kayu

atau keranjang dari bambu yang kuat/

kokoh agar buah tidak rusak pada

waktu diangkut ketempat pengolahan

buah. Dalam pengangkutan peti atau

keranjang tetap terbuka agar sirkulasi

udara tetap baik, sehingga buah tidak

cepat mengalami proses pematangan

buah. Bila buah akan dijual ke pabrik

pengolahan, harus disortir terlebih dahulu,

karena dengan alasan efisiensi.

Pabrik pengolah hanya menerima buah

mengkudu dengan ukuran tertentu, yaitu

panjangnya diatas 6 cm dan diameter

diatas 4 cm. Buah-buah yang berukuran

dibawah tersebut diatas bisa diolah

sendiri, dibuat jus atau dikeringkan.

ARAH KEBIJAKAN YANG

PERLU DITEMPUH

Meningkatnya animo masyarakat

dalam memanfaatkan mengkudu sebagai

bahan obat, makanan atau minuman

sehat dan kosmetik menyebabkan

komoditas ini banyak diminati baik

oleh kalangan pengusaha agribisnis

maupun kalangan Industri. Komoditas

ini telah memberi gairah kehidupan

bisnis dari hulu sampai hilir yang dapat

26

dikerjakan dan dinikmati masyarakat

lapisan bawah sampai atas.

Perkembangan pesat industri

pengolahan obat berbasis bahan baku

mengkudu di Indonesia mulai berkembang

sejak tahun 1998 dan dalam

tempo 3 tahun, sampai tahun 2001 di

sekitar Jabotabek saja telah tumbuh

tidak kurang dari 50 perusahaan pengolah

buah mengkudu, baik dalam skala

industri besar maupun skala industri

rumah tangga (Bangun, 2002). Jus

mengkudu telah diekspor ke beberapa

negara seperti Singapura, Malaysia dan

negara-negara Arab. Beberapa merk

dagang sudah terdaftar dan sudah

terkenal.

Sampai saat ini pengusaha industri

obat di Indonesia masih menggunakan

ekstrak buah mengkudu impor

untuk kebutuhan bahan baku produksi

obatnya (Kemala et al., 2003) yang

harganya tentu lebih mahal. Hal ini

disebabkan karena kualitas ekstrak

mengkudu dalam negeri belum dikenal

baik ditingkat internasional, dengan

demikian bila menggunakan ekstrak

dalam negeri, mereka khawatir akan

kehilangan pasaran. Dilain pihak produksi

buah mengkudu di Indonesia

cukup banyak dan semakin meningkat

dengan dilakukannya budidaya mengkudu

secara intensif oleh petani. Mengkudu

merupakan tanaman asli Indonesia,

sehingga untuk pengembangan

tanaman tersebut tidak akan banyak

hambatan. Biaya produksi di dalam

negeri akan lebih murah dibanding di

luar negeri, mengingat sumber daya

manusia yang berlimpah dan relatif

murah, sehingga harga jual produk

dalam negeri bisa bersaing di pasaran

internasional.

Dalam rangka pengembangan

obat herbal terstandar pemerintah melalui

Badan POM pada tahun 2003

telah memasukkan mengkudu kedalam

9 tanaman obat unggulan. Untuk

mendukung pengembangannya diperlukan

arah dan kebijakan yang tepat

dari pemerintah agar tidak mengalami

hambatan. Perkembangan pesat agroindustri

produk mengkudu perlu didukung

dengan cara budidaya yang memadai

sesuai standar Good Agricultural

Practice (GAP) dan memenuhi persyaratan

quality, safety dan efficacy (QSE).

Selain itu penelitian kearah peningkatan

produktivitas dan efisiensi harus

menjadi prioritas utama, sehingga

produk olahan mengkudu Indonesia

mampu bersaing di pasaran Internasional.

Dengan demikian dukungan

penelitian mutlak diperlukan untuk

menunjang pengembangan tanaman

obat di Indonesia, khususnya tanaman

mengkudu.

Penelitian untuk mendapatkan

varietas unggul yang memiliki produksi

dan bermutu tinggi, pengembangan

budidaya kearah lahan dan iklim yang

sesuai, serta aspek budidaya lainnya

yang berkaitan dengan peningkatkan

produksi dan mutu akan mendorong

peningkatan produksi secara nasional.

Aspek lain yang juga perlu digali

adalah perlakuan pasca panen ditingkat

petani untuk mendapatkan simplisia

atau bahan setengah jadi yang berkualitas.

Hal ini perlu untuk mengantisipasi

resiko gejolak harga dan pasaran, selain

27

untuk memperoleh nilai tambah bagi

petani.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut

di atas, Balittro selain melakukan

pengumpulan aksesi tanaman obat termasuk

tanaman mengkudu dari berbagai

daerah di Indonesia. juga telah

melakukan penelitian-penelitian komponen

budidayanya. Aspek lain yang

tak kalah penting adalah penyebaran

informasi teknologi dan bimbingan

serta penyuluhan yang selama ini dirasa

sangat kurang, perlu ditingkatkan.

Penanaman mengkudu akan lebih

menguntungkan bila dikembangkan

dengan sistim pola tanam tumpangsari

dengan tanaman lain. Selain bertujuan

untuk intensifikasi lahan, sistim tumpangsari

juga dapat mengantisipasi

gejolak harga dan kegagalan panen

mengkudu akibat faktor iklim dan

serangan hama dan penyakit.

KESIMPULAN

Mengkudu merupakan salah satu

tanaman obat yang memiliki nilai ekonomi

dan dapat dikembangkan di

Indonesia. Dukungan penelitian mutlak

diperlukan untuk memotivasi pengembangan

budidaya mengkudu di Indonesia

kearah peningkatan produksi dan

mutu yang sesuai standar internasional,

sehingga produk olahannya mampu

bersaing di pasaran internasional. Pengembangan

budidaya dalam skala luas

perlu dilakukan ke daerah yang sesuai

bagi tanaman mengkudu dan dengan

bentuk pola tanam tumpangsari dengan

tanaman lain, dengan tujuan untuk

peningkatan produktivitas dan mengurangi

resiko kerugian.

Perlu diteliti proses pasca panen

yang menghasilkan produk setengah

jadi, guna menambah penghasilan petani

dan mengantisipasi gejolak harga

yang tidak menguntungkan.

Penyebaran informasi teknologi

hasil penelitian dan bimbingan serta

penyuluhan yang selama ini dirasa

sangat kurang, perlu ditingkatkan.