| Mengkudu | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() Mengkudu |
||||||||||||||
| Klasifikasi ilmiah | ||||||||||||||
|
||||||||||||||
| Nama binomial | ||||||||||||||
| Morinda citrifolia L. |
Mengkudu (pace, kemudu, kudu (Jawa); cengkudu (Sunda), kodhuk (Madura), wengkudu (Bali) berasal daerah Asia Tenggara, tergolong dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini adalah Noni (bahasa Hawaii), Nono (bahasa Tahiti), Nonu (bahasa Tonga), ungcoikan (bahasa Myanmar) dan Ach (bahasa Hindi),
Tanaman ini tumbuh di dataran rendah pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan memiliki totol-totol.
Mengkudu sering digunakan sebagai bahan obat-obatan.
BOTANI TANAMAN
Pokok: Mengkudu ialah pokok malar
hijau dengan silara berbentuk kun, tumbuh setinggi 7 m.
Daun: Daun tersusun dalam pasangan yang
bertentangan, dan berbentuk bujur-tirus. Daun
berwarma hijau tua berkilat, licin dan hujungnya
runcing. Purata ukuran daun ialah 30-35 cm panjang dan 13-15
cm lebar. Di setiap pankal tangkai daun terdapat
ketumbuhan berbentuk seperti lidah berwarna hijau berukuran
lebih kurang 1.5 cm panjang.
Batang: Kulit batang pokok berwarna
kelabu dan mempunyai dahan empat segi.
Bunga: Jambak bunga tumbuh pada batang
yang bentuknya menyerupai ketuat. Bunga adalah bisexual
dan berbau wangi.
Buah: Buahnya berisi, jenis drup yang
tidak sekata dan berbentuk bujur. Apabila masak
buahnya berubah warna menjadi krim
keputih-putihan.
BAHAGIAN YANG DIGUNAKAN: Buah, daun dan
akar
13
STATUS PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TANAMAN
MENGKUDU
Endjo Djauhariya dan Rosihan Rosman
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
ABSTRAK
Tanaman obat mengkudu mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan
di Indonesia, karena selain lahan dan iklim yang sesuai juga ditunjang oleh sumber daya manusia
yang cukup banyak dan relatif murah. Pabrik industri pengolahan mengkudu berkem-bang
pesat dan hasil olahan mengkudu Indonesia telah dipasarkan ke berbagai negara. Dukungan
penelitian ke arah peningkatan produktivitas, mutu dan efisiensi dari semua aspek budidaya
masih diperlukan, sehingga produk olahan mengkudu Indonesia mampu bersaing di
pasaran Internasional. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, Balai Pene-litian Tanaman Obat
dan Aromatik melakukan pengumpulan aksesi tanaman obat termasuk tanaman mengkudu dari
berbagai daerah di Indonesia dan telah melakukan penelitian-penelitian mengenai
komponen budidayanya. Dari hasil penelitian didapatkan 3 tipe meng-kudu yang memiliki
keunggulan produksi. Se-lain itu pemberian pupuk kandang atau bokasi 15-20 kg/tanaman/
tahun dapat meningkat-kan produksi dan mutu buah mengkudu. Pengembangan budidaya
mengkudu perlu diarahkan ke daerah yang sesuai yaitu pada daerah yang beriklim A, B1,
dan B2 (Oldeman), jenis tanah Latosol, Andosol, Regosol dan Podsolik, kedalaman
tanah efektif >150 cm, tekstur lempung berpasir, berkerikil, berhumus atau lempung liat
berpasir kwarsa, drainasenya cukup baik, kemasaman tanah 5,5-6,5, curah hujan 2.000-
3.000 mm/th dengan hari hujan 150-170 hari/th. Pengembangan mengkudu akan lebih menguntungkan
bila dikembangkan dengan sistim pola tanam tumpangsari dengan tanaman lain.
Kata kunci : Morinda citrofolia, aksesi, budidaya
PENDAHULUAN
Mengkudu atau pace (Morinda citrifolia) merupakan salah satu tanaman obat yang dalam beberapa tahun terakhir banyak peminatnya baik dari kalangan pangusaha agribisnis, maupun dari kalangan pengusaha industri obat tradisional, bahkan dari kalangan ilmuwan diberbagai negara. Hal ini disebabkan karena baik secara empiris maupun hasil penelitian medis membuktikan bahwa dalam semua bagian tanaman mengkudu terkandung berbagai macam senyawa kimia yang berguna bagi kesehatan manusia. Peran mengkudu dalam pengobatan tradisional mendorong para peneliti diberbagai belahan dunia melakukan berbagai penelitian mengenai khasiat mengkudu. Popularitas tanaman tersebut terus menyebar ke negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Jepang, dan Singapura. Industri pengolahan berbahan baku mengkudu terus tumbuh diberbagai negara. Perusahaan industri minuman di wilayah kepulauan Pasifik Timur yang telah mengolah buah mengkudu untuk minuman sehat, terus memperluas perkebunan mengkudu untuk memenuhi pasar di Amerika Serikat, Jepang dan
negara-negara di Benua Eropa (Waha, 2001).
Di Indonesia tanaman mengkudu sudah dimanfaatkan sejak jaman dahulu
kala. Menurut silsilahnya bahwa mengkudu merupakan tanaman asli
dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mengkudu tumbuh hampir diseluruh
kepulauan di Indonesia, umumnya tumbuh liar di pantai laut, di pinggir
hutan, ladang, pinggir jalan dan aliran air, serta pinggir kampung. Tanaman
ini sengaja ditanam sebagai batas kepemilikan tanah dan untuk kebutuhan
obat keluarga. Penggunaan mengkudu sebagai obat di Indonesia tercatat
dalam cerita pewayangan yang ditulis dalam pemerintahan raja-raja dan para Sunan. Bukti sejarah pemanfaatan mengkudu pada masa itu dapat dilihat dari terdapatnya tanaman mengkudu yang tumbuh di museum koleksi
tanaman obat di keraton bekas kerajaan dan di mesjid-mesjid para sunan. Di
Keraton Surakarta misalnya terdapat pohon mengkudu yang umurnya diperkirakan
sudah ratusan tahun (Sudiarto et al., 2003). Dalam pengobatan tradisional,
mengkudu digunakan untuk obat batuk, radang amandel, sariawan,
tekanan darah tinggi, beri-beri, melancarkan kencing, radang ginjal, radang
empedu, radang usus, sembelit, limpa, lever, kencing manis, cacingan, cacar
air, sakit pinggang, sakit perut, masuk angin, dan kegemukan (Wijayakusuma
et al., 1992).
Pesatnya perkembangan industri obat tradisional yang mengolah buah
mengkudu belum diimbangi dengan upaya pengembangan budidaya yang
memadai. Baru beberapa tahun terakhir di beberapa daerah petani dan pengusaha
agribisnis mengebunkan mengkudu dalam luas areal yang masih
terbatas dan dengan cara-cara budidaya yang masih sangat sederhana, sehingga
untuk memenuhi kebutuhan buah mengkudu sebagai bahan baku industri
obat sebagian besar masih dipanen dari tanaman liar.
Dalam mendukung pengembangan
tanaman mengkudu di
Indonesia, Balai Penelitian Tanaman
rempah dan Obat (Balittro) telah melakukan
berbagai penelitian teknologi
budidaya mulai dari ekologi, pemuliaan,
hama dan penyakit hingga pasca
panen yang akan diurai pada bagian
selanjutnya dari tulisan ini.
PERKEMBANGAN MEGKUDU DI INDONESIA DAN PEMANFAATAN
Menurut data statistik tahun 2003 areal tanaman mengkudu yang dibudidayakan
di 15 propinsi seluas 23 hektar dengan produksi sekitar 1.910 ton dan
meningkat menjadi 73 hektar pada tahun 2004 dengan produksi sebesar 3.509 ton. Sebaran daerah dan luas areal tanaman mengkudu dapat dilihat
pada Tabel 1. Pemanfaatan mengkudu
sebagai obat tradisional baik di dalam maupun di luar negeri sebenarnya
sudah sejak ribuan tahun yang lalu. Waha (2001), mengemukakan, pada
tahun 100 SM penduduk Asia Tenggara berimigrasi ke kepulauan Polinesia
dan membawa tanaman mengkudu sebagai tanaman obat. Sejak saat itu
mengkudu dimanfaatkan sebagai obat di kepulauan tersebut. Laporan tentang
khasiat mengkudu sudah tercantum dalam tulisan-tulisan kuno 2000 tahun
yang lalu pada masa dinasti Han di Cina.
Di negara-negara Eropa, khasiat mengkudu baru diketahui sekitar tahun
1800, yang diawali dengan pendaratan Kapten Cook dan para awaknya di kepulauan
Hawaii pada tahun 1778. Kedatangan mereka turut serta menyebarkan
berbagai penyakit pada penduduk setempat seperti penyakit gonorrhea,
sipilis, TBC, kolera, influenza, pneumonia. Penyakit-penyakit tersebut
dengan cepat mewabah keseluruh wilayah Hawaii dan pengobatan
tradisional masyarakat setempat tidak mampu menyembuhkannya, sehingga
mengakibatkan kematian ribuan penduduk. Untuk mengatasi wabah penyakit
tersebut para peneliti Eropa yang datang kemudian mencoba mengatasinya
dengan pengobatan tradisional bangsa Polinesia termasuk pengobatan
alamiah menggunakan mengkudu dan berhasil, maka sejak tahun 1860 pengobatan
alamiah menggunakan mengkudu mulai tercatat dalam literaturliteratur
Barat.
Riset medis tentang khasiat mengkudu dimulai pada tahun 1950,
dengan ditemukannya zat anti bakteri terhadap Echerchia coli, M.pyrogenes
dan P. aeruginosa yang ditulis dalam jurnal ilmiah Pacific Science. Waha
(2001) mengemukakan bahwa senyawa xeronin dan prekursornya yang dinamakan
proxeronin ditemukan dalam

jumlah besar pada buah mengkudu oleh seorang ahli biokimia dari Amerika Serikat bernama Heinicke pada tahun 1972. Xeronin merupakan zat penting dalam tubuh yang mengatur fungsi dan bentuk protein spesifik selsel tubuh. Tahun 1980 melalui berbagai riset terbukti bahwa mengkudu dapat
menurunkan tekan darah tinggi. Pada tahun 1993 para peneliti dari Keio University dan The Institute of Biomedical Sciences Jepang menemukan zat anti kanker (Damnacanthal) yang terkandung dalam buah mengkudu. Penelitian terus dilakukan oleh berbagai lembaga di Prancis, Belanda,
Jerman, Jepang, Australia, Irlandia, Kanada, Taiwan dan di sebuah pusat kajian ilmu pengatahuan di Amerika Serikat. Universitas Hawaii turut melakukan penelitian tentang antitumor dan antikanker merngkudu dan hasilnya dimuat sebuah jurnal ilmiah Procedeeng west Pharmacology Society Journal
tahun 1994. Solomon (1998) melakukan penelitian terhadap 8000 orang pengguna sari buah mengkudu dengan dibantu oleh 40 dokter dan praktisi medis lainnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sari buah mengkudu dapat memulihkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit berat seperti jantung, kanker, diabetes, stroke dan sejumlah penyakit lainnya (Tabel
2).
KANDUNGAN KIMIA MENGKUDU
Di dalam buah mengkudu terkandung zat-zat yang berkaitan dengan kesehatan dan telah dibuktikan hanya terdapat di dalam mengkudu. Tanaman mengkudu mengandung berbagai vitamin, mineral, enzim alkaloid, ko-faktor dan sterol tumbuhan yang terbentuk secara alamiah. Komposisi kimia yang
terkandung dalam tiap bagian mengkudu tertera pada Tabel 3.
Senyawa-senyawa penting dalam mengkudu yang berkaitan dengan kesehatan
sebagai berikut :
Hasil penelitian Aalbersberg (1993) menyatakan bahwa kandungan
karoten pada daun mengkudu lebih tinggi dibanding dengan yang terkandung
dalam sayuran Brassica cinensis dan Colocasia esculenta. Sedangkan
pada bunganya terkandung senyawa glikosida, antrakinon, asam kapron dan
asam kaprilat (Bushnel et al, 1950). Senyawa-senyawa yang lebih berperan
dalam pengobatan dan kesehatan yaitu yang terkandung dalam buahnya seperti
asam askorbat yang cukup tinggi dan merupakan sumber vitamin C yang luar
biasa. Hasil analisa Solomon (1998) mengemukakan bahwa di dalam 1.000
g sari buah mengkudu terkandung 1.200 mg Vit. C, sehingga berkhasiat
sebagai anti oksidan yang sangat baik. Antioksidan berkhasiat menetralisir partikel-partikel berbahaya (radikal bebas) yang terbentuk dari hasil sampingan dalam proses metabolisme. Radikal bebas dapat merusak sistim kekebalan tubuh dan materi genetik. Selain itu, dari hasil penelitiannya buah mengkudu juga mengandung zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat,
protein, vitamin, dan mineralmineral esensial.


Menurutnya senyawa selenium adalah salah satu contoh mineral yang
terdapat dalam mengkudu dan juga merupakan anti oksidan yang hebat.
Bangsa polinesia dan penduduk asli kepulauan Pasifik Selatan sejak dulu
sampai sekarang menggunakan buah mengkudu sebagai makanan, terutama
untuk mempertahankan hidup sehat pada waktu krisis pangan.
Senyawa terpenoid yang terkandung dalam mengkudu merupakan senyawa
yang sangat penting bagi tubuh,
zat-zat terpen berfungsi membantu sintesa
organik dan pemulihan sel-sel
dalam tubuh (Waha, 2001). Bushnel et
al. (1950) mengemukakan bahwa buah
mengkudu mengandung zat-zat seperti
Ascubin, L. asperuloside, alizarin
dan beberapa zat antraquinon.
Menurutnya Zat-zat tersebut terbukti
sebagai zat anti bakteri infeksi
seperti, Proteus morganii, Bassilus
subtilis, Staphylococus aureus, Pseudomonas
aeruginosa dan Echerichia
coli. Selain itu juga dapat mengontrol
jenis-jenis bakteri yang mematikan
(patogen) seperti Salmonella dan
Sigella (Waha, 2001).
Mengkudu mengandung zat anti
kanker yang dinamakan damnacantha
(Hiramatsu et al., 1993). Zat tersebut
paling efektif melawan sel-sel abnormal
dibanding zat-zat antikanker yang
terdapat dalam tumbuhan lainnya. Zat
scopoletin dalam buah mengkudu ditemukan pada tahun 1993 oleh para
peneliti di Universtas Hawaii (Waha,
2001). Selanjutnya dikemukakan bahwa
zat scopoletin dapat memperlebar
saluran pembuluh darah yang menyempit
dan melancarkan peredaran darah.
Selain itu scopoletin juga dapat membunuh
beberapa tipe bakteri dan bersifat
fungisida terhadap bakteri Pythium
sp dan bersifat anti peradangan dan
alergi.
Buah mengkudu mengandung
zat proxeronin dalam jumlah besar
yang dapat dibentuk menjadi xeronin
(Heinicke dalam Waha, 2001). Selanjutnya
dikemukakan bahwa dalam usus
manusia terdapat enzim proxeronase
yang dapat mengubah proxeronin
menjadi xeronin. Fungsi utama xeronin
dalam tubuh adalah mengatur bentuk
dan kekerasan (rigiditas) protein-protein
spesifik di dalam sel. Bila fungsi
protein-protein menyimpang, maka tubuh
akan mengalami gangguan kesehatan
PENGOLAHAN MENGKUDU
Seperti telah dikemukakan sebelumnya,
bahwa buah mengkudu sejak
lama telah diolah menjadi obat, minuman
atau makanan sehat dan itu
dilakukan oleh negara-negara maju
dengan skala industri besar dan menggunakan
tehnologi modern. Bahkan
berdasarkan informasi dari pabrik
pengolah mengkudu di Indonesia seperti
Bali Noni dan Indononi daun
mengkudu kering sudah diekspor ke
Jepang, namun masih skala kecil. Hasil
akhir olahan buah mengkudu semakin
beragam, selain jus dan ekstrak untuk
pengobatan dan suplemen juga krim,
sabun, sampo untuk kecantikan dan
kesehatan. Beberapa cara sederhana
mengolah mengkudu untuk kepentingan
rumah tangga yang pernah dicoba di
Laboratorium Pasca Panen Balittro
seperti di bawah (Djauhariya et al.,
2004).
Sari buah mengkudu
Buah mengkal secukupnya atau
sebanyak mungkin, setelah dicuci bersih
dimasukan kedalam air mendidih
selama 2 menit, lalu ditiriskan sampai
dingin. Setelah dingin lalu difermentasi
dengan cara dimasukkan kedalam wadah
anti karat dan ditutup rapat. Di
dalam wadah 1/3 - 1/4 bagian bawah
dari wadah dibuat saringan penyangga
dan keran pembuka di bagian luarnya.
Setelah 2 minggu cairan buah akan menetes
ke dasar wadah dan dengan membuka
keran cairan tersebut ditampung
di wadah bersih dan steril. Sari buah
tersebut siap untuk diminum sebagai
obat atau minuman sehat atau dikirim
ke pabrik pengemas.
Simplisia kering
Setelah buah dipetik dari kebun,
dipilih yang sehat dan segar, tidak
cacat, dicuci bersih di air mengalir, lalu
ditiriskan sampai kering. Selanjutnya
dipotong-potong dengan ukuran ± 0,5
cm, kemudian dikeringkan dimata hari
terik waktunya dari jam 8°° - 11°° pagi.
Waktu dikeringkan sebaiknya ditutup
dengan kain hitam untuk mengurangi
kerusakan bahan akibat teriknya sinar
yang dapat menurunkan mutu simplisia.
Bila pengerinan menggunakan
20
oven vacum gunakan suhu 40°C.
Kadar air simplisia antara 10 - 13 %.
Buah kering dapat dimanfaatkan
untuk kepentingan sendiri sebagai cadangan
bahan obat, atau dijual ke pabrik
atau kepengolah jamu tradisional.
Bila mau disimpan, masukan kedalam
kantong plastik dan ditutup rapat tidak
tembus udara dan disimpan ditempat
yang sejuk dan kering, sehingga dapat
disimpan lebih lama sebelum dikirim
ke tempat pengolah.
Ekstrak mengkudu
Ekstrak mengkudu merupakan
perasan murni sari buah mengkudu, didalamnya
terkandung senyawa-senyawa
yang berkhasiat obat. Ekstrak kental
bisa dijual ke pabrik pengolah atau
dapat dimanfaatkan langsung sebagai
obat atau di keringkan lalu dimasukkan
ke dalam kapsul dan siap untuk dikonsumsi.
Cara membuat ekstrak sederhana
sebagai berikut :
- Buah mengkudu dihaluskan dengan
blender kemudian direndam dengan
alkohol 90 % perbandingan 1 : 3 dan
dikocok dengan pengocok listrik
(Stirrer) selama 2 jam, lalu didiamkan
selama 24 jam.
- Ekstrak disaring dan ampasnya direndam
kembali dengan alkohol 90
% 1 : 2, kemudian dikocok selama 2
jam dan didiamkan selama 24 jam.
- Hasil saringan (filtrat) yang dihasilkan
kemudian diuapkan dengan
menggunakan mesin penguap listrik
(evaporator) sampai didapatkan ekstrak
kental dengan rendemen + 7,65
%.
Standar mutu ekstrak kental
mengkudu
- Rendemen : 10 - 12 %
- Kandungan kimia (Flavonoid total)
: 0,09 – 0,12 %
- Kadar air : 3,7 – 6,15 %
PENELITIAN TEKNOLOGI
BUDIDAYA MENGKUDU
Pada awal perkembangan industri
obat tradisional, untuk memenuhi
kebutuhan akan buah mengkudu masih
dipanen dari tanaman liar. Namun setelah
beberapa tahun kemudian banyak
petani yang membudidayakannya secara
khusus, terutama disekitar pulau
Jawa, kemudian terus menyebar kebeberapa
daerah di Indonesia. Teknologi
budidaya yang selama ini dilakukan petani
umumnya masih sangat sederhana
tanpa perlakuan budidaya yang memadai
yang memenuhi standar Good
Agricultural Practice (GAP) berasal
dari hasil penelitian.
Disisi lain perkembangan pesat
agroindustri berbasis mengkudu juga
masih mengkhawatirkan, karena dalam
proses pengadaan bakunya belum berlandaskan
standar quality, safety dan
efficacy (QSE). Aspek QSE ini sangat
dipengaruhi oleh tehnik budidaya yang
diterapkan. Tehnik budidaya harus
mengikuti standar good agricultural
practice (GAP), Sedangkan proses
produk olahannya dengan menerapkan
good manufacturing practis (GMP)
yang bertumpu pada QSE. Salah satu
kendala dari teknologi budidaya mengkudu
adalah minimnya dukungan penelitian
ilmiah terhadap perkembangan
agro industri mengkudu (Barani 2002).
21
Hasil penelitian teknolgi budidaya yang
telah dilakukan adalah sebagai berikut :
Ekologi tanaman
Mengkudu merupakan tumbuhan
tropis, dapat tumbuh diberbagai tipe
lahan dan iklim pada ketinggian tempat
dataran rendah sampai 1.500 m dpl
(Heyne, 1987). Kondisi lahan yang sesuai
untuk tanaman mengkudu adalah
pada lahan terbuka cukup sinar matahari,
ketinggian tempat 0 - 500 m dpl,
tekstur tanah liat, liat berpasir, tanah
agak kembab, dekat dengan sumber air,
subur, gembur, banyak mengandung
bahan organik dan drainasinya cukup
baik. Curah hujan 1.500 - 3.5000 mm/
tahun, merata sepanjang tahun, dengan
bulan kering < 3 bulan, pH tanah 5 - 7
(Heyne, 1987, Nelson, 2001, Sudiarto
et al., 2003). Untuk mendukung pengembangan
mengkudu telah dilakukan
studi ekologi menyangkut persyaratan
tumbuh tanaman mengkudu
(Tabel 4).
Adanya bulan kering yang dikehendaki
berhubungan dengan pembungaan
dan pembuahan. Hujan yang
tinggi akan berpengaruh terhadap pembungaan
dan pembuahan. Bunga akan
gugur dan tidak terjadi pembuahan,
sedangkan bulan kering yang terlalu
panjang juga akan mengurangi jumlah
buah dan buah yang tumbuh mengecil
dan bentuknya tidak normal. Mengingat
peranan mengkudu dalam industri
obat tradisional dan sebagai komoditas
ekspor, kiranya perlu mendapat perhatian
dari semua pihak terkait dalam
hal penelitian dan pengembangannya.
Bahan tanaman
Backer dan Backhuizen (1965)
mengemukakan bahwa di Pulau Jawa
terdapat 6 jenis mengkudu diantaranya
dua jenis yang mempunyai nilai ekonomi,
yaitu M. citrifolia dan M.
brachteata. Jenis M. citrifolia biasa
digunakan untuk obat, sedangkan jenis
M. brachteata dahulu biasa digunakan
sebagai pewarna kain dan batik.
Sudiarto et al. (2003) mengemukakan
bahwa dibeberapa daerah di Jawa dan
Sulawesi ditemukan berbagai ragam
mengkudu berdasarkan morfologi dan
mutu buahnya. Dari sebanyak 20
nomor mengkudu yang dianalisa mutu
buahnya, 10 nomor diantaranya mempunyai
kualitas jus buah cukup baik.
Hasil pengamatan Djauhariya et al.
(2006), di beberapa daerah di Pulau
Jawa ditemukan 7 tipe mengkudu.
Pembeda utama ke 7 tipe tersebut adalah
morfologis buah (bentuk, ukuran
dan jumlah biji per buah), rasa daging
buah, serta rendemen jus daging buah.
Berdasarkan karakter produksi
dan mutu buahnya, dari ke 7 tipe tersebut
ada 3 tipe yang merupakan pohon
induk harapan. Karakter morfologi ketiga
tipe tersebut dapat dilihat pada
Tabel 5. Sudiarto et al. (2003) mengemukakan
bahwa mutu buah ketiga tipe
tersebut diatas cukup baik, kadar sari
larut air rata-rata 9 %, sehingga layak
untuk dikembangkan budidayanya.
Lingkungan tumbuh untuk
mengkudu sukun dan mengkudu pahit
agak terbatas dari dataran rendah sampai
ketinggian 350 m dpl, tipe iklim
C/B, curah hujan 2000 - 3000 mm/th,
jenis tanal Latosol dan Regosol, meng

hendaki suhu udara dan tanah agak
lembab. Sedangkan mengkudu berbiji
banyak sebarannya cukup luas
dari dataran rendah sampai 800 m
dpl, tipe iklim A,B sampai D, curah
hujan 1500 - 3500 mm/th, jenis tanah
Latosol, Andosol, Regosol, Grumosol
dan Podsolik., kelembaban udara
dan tanah kering sampai basah.
Cara perbanyakan
Cara perbanyakan mengkudu
yang umum dilakukan petani adalah
dengan menggunakan biji. Dalam rangka
mempertahankan sifat genetis yang
baik yang dipunyai induknya cara ini
tidak dapat dilakukan karena penyerbukan
tanaman mengkudu terjadi secara
silang, sehingga akan terjadi segregasi
genetik pada keturunan berikutnya.
Untuk itu perbanyakan
mengkudu sebaiknya dilakkan secara
vegetatif.
Dalam upaya menunjang
pengembangan budidaya mengkudu,
Balittro terus melakukan penelitian
mengenai aspek-aspek yang berkaitan
dengan peningkatan produksi dan mutu
mengkudu. Beberapa aspek budidaya
yang telah dilakukan penelitiannya
seperti pengadaan bahan tanaman secara
vegetatif, pemupukan dan analisa
mutu dari jenis-jenis mengkudu unggulan.
Dari hasil penelitian, cara perbanyakan
dengan setek, grafting dan

cangkok tingkat keberhasilannya mencapai
diatas 80 % (Rahardjo dan
Djauhariya, 2004, Djauhariya dan
Rahardjo, 2004). Habitus tanaman hasil
dari ketiga cara perbanyakan tersebut
cukup rindang dan cepat berbuah,
sehingga mempermudah dalam cara
panen buahnya. Namun demikian masing-
masing cara mempunyai kelebihan
dan keterbatasan. Tanaman mengkudu
hasil perbanyakan dengan cara
setek dan cangkok sistim perakarannya
yang dangkal karna tidak mempunyai
akar tunjang, sehingga cukup rentan
terhadap kekeringan dimusim kemarau.
Sedangkan dengan cara grafting, dalam
tehnik pelaksanaannya membutuhkan
personil yang mempunyai keterampilan
yang tinggi, sehingga perlu dilatih terlebih
dahulu.
Persiapan lahan dan penanaman
Penanaman dilakukan secara
monokultur, langsung dibuat lubang
tanam namun apabila penanaman dilakukan
dengan sistim tumpangsari
dengan tanaman semusim, maka tanah
perlu diolah dahulu. Lubang tanam dibuat
dengan ukuran panjang, lebar dan
dalam masing-masing 40 cm. Jarak
antar lubang tanam 3 m x 4 m atau 4 m
x 4 m, tergantung dari kondisi topografi
dan kesuburan tanah. Pada lahan yang
miring dan tanah yang lebih subur jarak
tanam dapat diperlebar. Pada daerah serangan
rayap dan hama tanah lainnya,
sebelum ditimbun disekeliling pangkal
batang bibit ditaburi dengan anti rayap,
dengan sedapat mungkin menggunakan
pestisida nabati. Setelah tanam dilakukan
penyiraman secukupnya serta diberi
mulsa dan naungan jerami atau
sisa bahan tanaman lainnya. Naungan
dibuka setelah tanaman muda cukup
tahan terhadap sinar mata hari terik (+
2 bulan ).
Pemupukan dan pemeliharaan
Pemupukan pada tanaman mengkudu
tidak dianjurkan menggunakan
pupuk buatan (anorganik). Dengan
demikian dianjurkan menggunakan
pupuk organik berupa kotoran hewan,
kompos atau bokasi. Pupuk organik kotoran
hewan dengan dosis 20 kg atau
dengan bokasi 15 kg/tanaman/tahun
yang diberikan pada awal dan akhir
musim hujan masing-masing separuh
dosis dapat meningkatkan produksi dan
mutu buah mengkudu (Djauhariya et
al., 2006).
Pemberian mulsa disekitar piringan/
tanaman perlu dilakukan setiap
tahun menjelang musim kemarau.
Perbaikan saluran dan selokan dilakukan
bila perlu terutama menjelang dan
dimusim hujan. Pengendalian gulma
dilakukan apabila banyak tumbuh disekitar
piringan dengan cara mencabutnya.
Hama yang sering mengganggu
tanaman menkudu muda yaitu ulat dan
pemakan daun. Apabila ada serangan
hama tersebut, cukup dikendalikan
secara fisik, yaitu diambil dan dibunuh,
tidak perlu menggunakan insektisida.
Hama yang umum pada tanaman dewasa
yaitu kutu daun yang menyerang
pucuk dan daun muda. Serangan berat
oleh hama tersebut biasanya terjadi
pada musim kemarau. Pada musim
hujan gejala serangan tidak nampak
dan tidak mengganggu pertumbuhan
dan produksi mengkudu.
25
Salah satu penyakit yang menyerang
tanaman mengkudu adalah bercak
daun oleh Colletotrichum sp. Penyakit
ini dapat dikendalikan dengan sanitasi
dan fungisida nabati (Noveriza, komunikasi
pribadi).
Pola tanam
Mengkudu dapat dibudidayakan
dengan sistim tanam sela atau tumpangsari
dengan tanaman semusim,
dengan tujuan untuk meningkatkan
efisiensi lahan dan pendapatan petani.
Tanaman sela atau tumpangsari ditanam
diantara tanaman mengkudu
dengan mengatur jarak tanam dan
populasi tanaman tersebut. Jenis tanaman
sela atau tumpangsari yang dianjurkan
yaitu yang kompatibel, tidak kompetitif
dengan tanaman pokok, cocok
dengan lahan dan iklim setempat dan
mempunyai nilai jual tinggi. Tanaman
tahunan yang ditumpangsarikan dengan
tanaman mengkudu misalnya
jeruk, pisang, kapolaga, tanaman sayuran
seperti katuk dan lainnya. Tanaman
palawija dan semusim lainnya seperti
jagung, kacang-kacangan, dan tanaman
sayuran.
Panen dan pasca panen
Hasil penelitian Balittro menunjukkan
bahwa tanaman mengkudu
yang berasal dari bahan tanaman setek
dan cangkok akan dipanen buahnya lebih
awal, yaitu pada umur 10 bulan
setelah tanam, sedangkan yang berasal
dari bahan tanaman grafting pada umur
12 bulan dan yang berasal dari okulasi
dan biji pada umur > 12 - 14 bulan. Selanjutnya
panen buah dapat dilakukan
setiap 2 minggu sekali. Buah yang
dipanen yang sudah tua sampai mengkal,
dengan ciri-ciri : kulit buah berwarna
putih mengkilap merata, transparan
dan daging buah masih keras. Produksi
buah tanaman mengkudu hasil dari ketiga
cara perbanyakan tersebut di atas
cukup baik. Pada tahun pertama bisa
menghasilkan buah rata-rata diatas 30
kg/pohon.
Buah yang telah dipanen dimasukkan
kedalam wadah peti dari kayu
atau keranjang dari bambu yang kuat/
kokoh agar buah tidak rusak pada
waktu diangkut ketempat pengolahan
buah. Dalam pengangkutan peti atau
keranjang tetap terbuka agar sirkulasi
udara tetap baik, sehingga buah tidak
cepat mengalami proses pematangan
buah. Bila buah akan dijual ke pabrik
pengolahan, harus disortir terlebih dahulu,
karena dengan alasan efisiensi.
Pabrik pengolah hanya menerima buah
mengkudu dengan ukuran tertentu, yaitu
panjangnya diatas 6 cm dan diameter
diatas 4 cm. Buah-buah yang berukuran
dibawah tersebut diatas bisa diolah
sendiri, dibuat jus atau dikeringkan.
ARAH KEBIJAKAN YANG
PERLU DITEMPUH
Meningkatnya animo masyarakat
dalam memanfaatkan mengkudu sebagai
bahan obat, makanan atau minuman
sehat dan kosmetik menyebabkan
komoditas ini banyak diminati baik
oleh kalangan pengusaha agribisnis
maupun kalangan Industri. Komoditas
ini telah memberi gairah kehidupan
bisnis dari hulu sampai hilir yang dapat
26
dikerjakan dan dinikmati masyarakat
lapisan bawah sampai atas.
Perkembangan pesat industri
pengolahan obat berbasis bahan baku
mengkudu di Indonesia mulai berkembang
sejak tahun 1998 dan dalam
tempo 3 tahun, sampai tahun 2001 di
sekitar Jabotabek saja telah tumbuh
tidak kurang dari 50 perusahaan pengolah
buah mengkudu, baik dalam skala
industri besar maupun skala industri
rumah tangga (Bangun, 2002). Jus
mengkudu telah diekspor ke beberapa
negara seperti Singapura, Malaysia dan
negara-negara Arab. Beberapa merk
dagang sudah terdaftar dan sudah
terkenal.
Sampai saat ini pengusaha industri
obat di Indonesia masih menggunakan
ekstrak buah mengkudu impor
untuk kebutuhan bahan baku produksi
obatnya (Kemala et al., 2003) yang
harganya tentu lebih mahal. Hal ini
disebabkan karena kualitas ekstrak
mengkudu dalam negeri belum dikenal
baik ditingkat internasional, dengan
demikian bila menggunakan ekstrak
dalam negeri, mereka khawatir akan
kehilangan pasaran. Dilain pihak produksi
buah mengkudu di Indonesia
cukup banyak dan semakin meningkat
dengan dilakukannya budidaya mengkudu
secara intensif oleh petani. Mengkudu
merupakan tanaman asli Indonesia,
sehingga untuk pengembangan
tanaman tersebut tidak akan banyak
hambatan. Biaya produksi di dalam
negeri akan lebih murah dibanding di
luar negeri, mengingat sumber daya
manusia yang berlimpah dan relatif
murah, sehingga harga jual produk
dalam negeri bisa bersaing di pasaran
internasional.
Dalam rangka pengembangan
obat herbal terstandar pemerintah melalui
Badan POM pada tahun 2003
telah memasukkan mengkudu kedalam
9 tanaman obat unggulan. Untuk
mendukung pengembangannya diperlukan
arah dan kebijakan yang tepat
dari pemerintah agar tidak mengalami
hambatan. Perkembangan pesat agroindustri
produk mengkudu perlu didukung
dengan cara budidaya yang memadai
sesuai standar Good Agricultural
Practice (GAP) dan memenuhi persyaratan
quality, safety dan efficacy (QSE).
Selain itu penelitian kearah peningkatan
produktivitas dan efisiensi harus
menjadi prioritas utama, sehingga
produk olahan mengkudu Indonesia
mampu bersaing di pasaran Internasional.
Dengan demikian dukungan
penelitian mutlak diperlukan untuk
menunjang pengembangan tanaman
obat di Indonesia, khususnya tanaman
mengkudu.
Penelitian untuk mendapatkan
varietas unggul yang memiliki produksi
dan bermutu tinggi, pengembangan
budidaya kearah lahan dan iklim yang
sesuai, serta aspek budidaya lainnya